Rehan Kecelakaan (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 7) - Novel Bagus

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Rehan Kecelakaan (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 7)

Monday, April 8, 2019
Matahari sudah menampakkan sinar terangnya. Burung-burung berkicau dengan indahnya. Kapal feri tujuan simeulue-labuhan haji sudah tampak menepi.


SEBENTAR lagi akan sampai di tepi pantai. Ada sebuah kebahagiaan disana. kebahagiaan yang dirasakan oleh Sahira. 

Gadis manis nan polos itu akan bertemu dengan Nafia. Dalam hati sahira berkata, Maafkan aku kak Nafia karena tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu. 

Semoga saja kakak bahagia dengan bang Rehan. Lelaki yang baik hatinya dan di puja-puja oleh semua gadis desa. Sungguh beruntung kakak mendapatkan suami seperti bang Rehan. 

Aku yakin, semua gadis disini pasti akan cemburu kepada kakak. Fery sudah menepi di bibir pantai, satu persatu penumpang sudah mulai turun. Sahira mulai menuruni tangga kapal dan disana ia tidak melihat Nafia. 

Apakah ia tidak di jemput. Kamu sudah sampai Sahira, mari kita pulang. Ujar Rehan sambil tersenyum kepadanya. Kenapa bang Rehan yang menjemputku dan bukan kak Nafia? Apa kak Nafia sakit? Tanya Sahira sambil mengerutkan keningnya. 

Sahira terus berjalan sambil membawakan barangnya. Biarkan aku yang membawa Sahira. Ini berat, sebaiknya kamu jalan saja dan kita akan pulang sekarang. Mobilnya abang parkir di depan sana. 

Apa kamu mau makan dulu terus nanti baru kita pulang? Oh tidak usah bang. Aku tidak lapar. Kenapa pertanyaanku belum abang jawab. Kak Nafia kenapa tidak ikut menjemputku? 

Sekarang mari kita naik ke mobil biar nanti abang yang akan cerita semuanya. Sahira langsung masuk ke dalam mobil. Rehan juga masuk ke mobil dan mereka langsung pulang. 

Dalam perjalanan, Rehan menahan airmatanya. Ingin rasanya ia menangis namun itu tidak mungkin ia lakukan meskipun alsannya masalah hati. Sahira, aku ingin menayakan sesuatu kepadamu. 

Apa kamu sangat menyayangi Nafia? Seberapa besar kasih sayangmu kepadanya? Seharusnya abang tidak perlu menanyakan itu. Abang sudah tau jawabannya. Aku sangat menyayangi kak Nafia meskipun dia hanya kakak sepupuku. Namun sejak kedua orangtuaku meninggal sekitar enam bulan yang lalu. Aku sudah di anggap sebagai anak kandung oleh paman Khairil. Kak Nafia juga sangat menyayangiku. 

Aku menyesal karena tidak bisa hadir di pesta pernikahan kak Nafia dan bang Rehan. Aku yakin bang rehan pasti bahagia bisa mendapatkan istri sebaik kak Nafia. Iya bang? 

Memang kak Nafia itu adalah gadis impian buat semua lelaki. 

Hmm. Aku berlebihan ya bang dalam menilai kak Nafia? Kamu benar Sahira. Nafia memang gadis baik. Tapi dia tidak mencintaiku. 

Ternyata sebelum kami menikah dia sudah menaruh hati kepada seorang lelaki yang bernama Rafa. Saat itu Rafa pernah berjanji kepadanya setelah selesai S1 ia akan melamar Nafia. 

Tapi takdir berkata lain. Disaat Rafa pulang, ia mengalami musibah dan mobil yang ia tumpangi itu jatuh ke jurang. Nyawanya tidak bisa di selamatkan. Rafa meninggal dunia. Nafia menceritakan itu semua kepadaku. Dia juga mengatakan kalau ia tidak mencintaiku. 

Suami mana yang tidak akan bersedih bila istrinya ternyata tidak mencintainya. Apakah aku yang terlalu egois waktu itu sehingga aku menikahi gadis itu. Apa dosaku yaa Allah. 

Bang Rehan jangan seperti itu. Aku yakin kak Nafia juga mencintai bang Rehan namun untuk saat ini abang harus sabar. Mungkin bang Rafa itu adalah cinta pertamanya kak Nafia makanya sulit untuk di lupakan. Apalagi dengan kejadian meninggal seperti itu. Abang yang sabar ya. 

Meskipun kak Nafia belum bisa menerima bang Rehan tapi abang harus tau bahwa cinta juga bisa hadir setelah pernikahan. Dengan perasaan sedih Rehan terus mengemudi mobilnya. 

Mobil melaju begitu cepat dan tiba-tiba duaaaarrrrrrrrrrr. Rehan kecelakaan dan menabrak sebuah ruko di kota Blang Pidie. Orang-orang yang berada disana langsung menyelamatkan Rehan dan Sahira. 

Kedua korban itu langsung dibawa lari ke rumah sakit Teungku Peukan. Namun nyawa Sahira tidak dapat di selamatkan. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan Rehan tidak sadarkan diri. 

Mendengar berita duka tersebut, Abi Khairil dan Nafia sangat terkejut. Ia tidak bisa membayangkan kenapa Sahira begitu cepat meninggalkan dirinya. Belum sembuh luka dihatinya karena kehilangan Rafa namun sekarang ia harus kehilangan Sahira yang sangat ia sayangi. 

Kenapa harus Sahira yang meninggal dunia. Kenapa bukan Rehan saja yang pergi untuk selamanya. Kenapa aku begitu benci kepada lelaki itu. 

Kenapa yaa Tuhan. Yaa Allah, ampunilah semua dosaku. Jika aku belum bisa mencintai bang Rehan. Jangan tumbuhkan rasa benci di hatiku kepadanya. Aku tau ini salah. Aku tau yaa Allah, aku tau. 

Sesaat kemudian Nafia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Pandangannya menjadi gelap. Nafia jatuh pingsan. Setelah Nafia sadar. ia langsung menuju ke rumah sakit. Disana ia bertemu dengan ayahnya yang sudah lebih dulu menjenguk Rehan. 

Enam jam sudah berlalu, namun Rehan belum juga sadar. Abi Khairil minta pamit diri untuk istirahat sebentar. Beliau meminta agar Nafia menjaga suaminya di ruang pasien. 

Jaga suamimu baik-baik ya nak. Do’akan agar dia cepat sembuh. Do’a seorang istri untuk suaminya akan lebih cepat dikabulkan Tuhan. Aamin. 

Tepat jam 11:30 wib Rehan sadar namun ia tidak melihat siapapun di sampingnya. Tidak ada abi Khairil dan juga tidak ada Nafia. Tiba-tiba ia tidak bisa menggerakkan tangan kanannya. Saat itu ia ingin minum, ia haus. 

Yaa Allah, apakah tanganku patah? Disaat hatiku patah disebabkan cintaku kepada Nafia. Namun tanganku juga patah. Apakah ini keadilan bagiku? 

Apa salahku sehingga aku menanggung semua. Dimana Sahira, apakah dia sudah menceritakan semuanya kepada Nafia. Apakah dia baik-baik saja ataukah terjadi sesuatu dengannya. 

Tiba-tiba ia melihat Halil masuk membawa satu bungkus nasi dan satu botol air mineral. Sepertinya ia belum makan. 

Alhamdulillah bang Rehan sudah sadar. Maaf bang, tadi aku keluar sebentar karena membeli sedikit makanan. Aku lapar bang. Apa bang Rehan mau makan ? Tidak usah Halil. Dimana abi Khairil ? dimana Nafia ? 

Mereka sudah pulang bang setelah semalaman menjaga bang Rehan disini. Baru saja mereka pulang. Apa aku harus menelpon abi Khairil atau Nafia supaya mereka tau kalau bang Rehan sudah sadar. Sahira dimana ? tanya Rehan dengan perasaan sedih. Sahira sudah meninggal dunia. Sahira tidak bisa diselamatkan disaat terjadi kecelakaan. Kepalanya banyak sekali mengeluarkan darah. Ia sudah meninggal bang Rehan. Abang harus sabar ya. Jelas Halil panjang lebar. 

Mendengar itu semua, Rehan sedih sekali. Ia tidak bisa membendung airmatanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Apapun yang terjadi pada Sahira itu semua salahnya. Kenapa ini terjadi kepadanya. 

Sahira, kamu adalah adikku kenapa kamu begitu cepat pergi dariku. Aku ingin bercerita banyak denganmu. Aku ingin nasehat darimu agar aku sadar. Agar aku tidak terus-terusan sedih karena cinta kepada kakakmu. Sahira, kamu adalah wanita terbaik yang pernah ku kenal. 

Andaikan waktu bisa di putar kembali. Biarkan aku yang pergi untuk selamanya dan bukan kamu. Kamu masih punya banyak impian di dunia ini dan sedangkan aku? 

Aku seperti tidak ada yang perduli. Sampai saat aku sakit begini. Orang yang seharusnya menjagaku tapi dia malah pergi meninggalkanku. Sahira adikku. Dalam hidupku aku hanya bisa mengingat dirimu yang begitu baik kepadaku. Kamu begitu peduli denganku lantas bagaimana aku bisa melupakanmu. 

Sahira,. Sampai kapanpun aku menangis dan itu tidak akan membuatmu kembali lagi ke dunia ini. Aku minta maaf kepadamu karena ternyata aku adalah orang yang menyebabkan dirimu meninggal dunia. Maafkan aku adikku. 

Maafkan aku duhai wanita yang baik hatinya. Disaat kesedihan ini begitu terasa memilukan hati. Istri yang seharusnya berada disisiku dan menyemangatiku supaya aku cepat senbuh ternyata malah pergi entah kemana. Aku tidak mau menyalahkan Nafia yang belum bisa menerimaku sebagai suaminya. Cinta tak bisa di paksa dan aku tau hal itu. 

Namun pernikahan antara aku dengan dirinya sudah terjadi dan itu artinya dia adalah aku dan aku adalah dirinya. Tapi mengapa Nafia begitu dingin dengan ini. 

Tepat jam lima. Sore ini abi Khairil dan Halil sibuk mencari obat untuk Rehan. Baru dua hari ini Rehan bisa menggerakkan tangannya. Abi Khairil dan Halil yang selalu setia menjaga dan mengobati. 

Istri yang seharusnya berada disisi nya malah tidak menjaganya. Kalau begini apa artinya dari sebuah pernikahan. Mau dibawa kamana rumah tangga ini dan apa yang harus aku lakukan. 

Bagaimana mungkin ada wanita seperti Nafia yang mencintai Rafa dengan begitu besarnya. Sedangkan aku yang telah menjadi suaminya seolah-olah bukan siapa-siapa untuknya. Nafia, kalau kau bukan jodohku kenapa kau hadir dalam hidupku. terlalu lelah aku berharap cinta dari dirimu yang tidak menghargai perasaanku. 

Sudah terlalu sering aku mendengar cerita cinta yang berakhir kecewa tapi cinta yang ku alami jauh lebih sedih. Kering airmataku mengingat tentangmu. tentang cinta yang ku rasa kepadamu. Nafia, katakan padaku mengapa kau belum bisa mencintaiku?

Klik: 
Lanjut ke part 8/tamat
Atau:
Kembali ke part 6