Aku Tersesat Menuju Hati Mu (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 4) - Novel Bagus

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Aku Tersesat Menuju Hati Mu (Tentang Kita yang Tak Jodoh Part 4)

Monday, April 8, 2019
Nun jauh disana, di kota Tapaktuan. Di sebuah senja yang menenramkan jiwa. Ada hawa dingin yang masuk ke dalam tubuhnya.



ANGIN yang berhembus perlahan seperti membawa sejuta angan-angan dalam hatinya. Akankah aku bisa hidup besama dengan orang yang aku cintai. 

Yaa Allah, pertemukanlah aku dengan jodohku. ingin rasanya aku berbagi kisah dan kasih bersama makhluk Mu yang bernama perempuan itu. 

Aku ingin sekali bertemu dengan pendamping hidupku. aku ingin menikah dan aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku sangat mencintai Nafia. 

Izinkanlah aku bersanding dengannya. Amin. Rafa yang duduk tepat menghadap laut yang indah. Kapal-kapal kecil mulai menepi. Riak gelombang di pantai ikut menambah kerinduan di hatinya. 

Rindu dengan pilihan hatinya. Siapakah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya. Nafia ataukah ada gadis lain yang aku belum tau siapa dia sebenarnya. 

Suara azan mulai bersahut-sahutan di masjid. Rafa langsung bergegas menuju masjid agung kota Tapaktuan. 

Disana ia ingin shalat maghrib dan setelah shalat nanti ia akan mengatakan kepada orangtuanya kalau ia akan melamar gadis pilihan hatinya, yaitu Nafia Humaira. 

Ya, ini harus aku lakukan secepatnya. Aku tidak mau terlambat. Satu menit saja aku terlambat itu artinya aku telah memberi sedikit waktu kepada lelaki lain untuk melamarnya. 

Aku tidak boleh melakukan hal bodoh. Aku tidak mau kecewa. Bisiknya dalam hati Usai shalat maghrib, Rafa langsung menghidupkan motornya dan langsung pulang. 


Dalam hati ia berharap keinginannya tidak bertepuk sebelah tangan. Ia berharap ayah dan ibunya setuju dengan gadis pilihan hatinya. 

Ditengah jalan menuju rumahnya, motor Rafa mogok. Bensinnya habis. Mau tidak mau ia harus mendorong motornya. Untung saja POM bensin sudah dekat dan ia tidak perlu waktu lama untuk mengisi bensin motornya. 

Disana ia melihat Ravi sedang mengisi bensin. Adik satu-satunya yang ia cintai didunia ini. menilhat Ravi, ada sedikit keraguan muncul dalam hatinya. 

Ravi, kamu mau kemana? Kelihatannya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari abang? 

Ada hal penting bang. Abang sudah dijodohkan dengan kakak Mutia. Saudara kita yang tinggal di kota Meulaboh itu. Ibu menyetujuinya. Kenapa bisa begitu?

Aku belum mengatakan setuju dengan semua itu. Mengapa ibu tidak menghargaiku. Sabar bang, sabar. Bagaimana aku bisa sabar Ravi. 

Coba saja kalau kamu berada di posisiku sekarang. Apa yang bisa kamu lakukan. Bang, itu masih belum berakhir. Abang masih punya waktu sebelum ijab qabul di lakukan. 

Aku akan bersedia untuk membela abang dihadapan ibu. Aku janji bang. Terimakasih Ravi. Terima kasih adikku tercinta. Ravi berharap bang Rafa harus pergi kerumah gadis yang abang cintai itu. 

Abang harus mengatakan yang sebenarnya. Iya Ravi. Aku pasti akan melakukannya. Besok aku akan ke rumah Nafia dan melamarnya. Itu pilihanku. Dia gadis yang aku cinta dan bukan Mutia. 

Sesaat kemudian Rafa dan Ravi langsung pulang kerumah. Disana ia tidak melihat siapa-siapa. Mungkin ibunya sudah keluar sebentar. 

Rafa langsung begegas masuk ke kamar. Ingin rasanya ia menelpon Nafia dan menceritakan apa yang terjadi. Tapi, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak mungkin berkata yang sebenarnya karna itu akan menyakitkan hati Nafia. 


Yaa Allah,
Biarkan malam_Mu berlalu begitu cepat dan berganti dengan hari yang indah. Hamba sudah tidak sabar bertemu dengan makhluk_Mu yang sangat hamba cintai. 

Apakah salah bila hamba melamar gadis itu. Mengapa cinta ini begitu rumit sekali. Mengapa ibu menyetujui Mutia menjadi pendamping hidupku. 

Apakah beliau tidak tau kalau aku sudah punya pilihan sendiri. Malampun terus masuk dalam gelapnya. Bintang-bintang yang biasanya menerangi malam sudah kembali keperaduan. 

Semua seperti tak ada lagi keindahan. Apakah ini pertanda kalau aku akan kehilangan orang yang aku cintai untuk selamanya. Oh, Malam ini aku tidak bisa tidur. Apakah aku harus menelpon Nafia. 

Mungkin dengan mendengar suaranya aku bisa sedikit tenang. Aku mengambil handphone dan langsung mengontak Nafia. Aku kecewa. Benar-benar kecewa. 

Aku bukannya mendengar suara Nafia tapi aku mendengar kata-kata lain. Maaf, pulsa yang anda miliki tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. 

Yaa Allah, Berikanlah kesabaran dalam hatiku Malam terus berlalu dan sebentar lagi akan terdengar suara azan subuh. Rafa belum memejamkan matanya sekalipun. 

Ia benar-benar tidak bisa tidur. Setelah shalat Rafa langsung berangkat ke kota Blang Pidie. Ia tidak mau memberitahu ayah dan ibunya tentang hal ini. 

Kalaupun orangtuanya tidak setuju dengan pilihan hatinya maka ia akan memohon dengan penuh harapan kepada Abi Khairil agar ia bisa menikahi putri beliau yang sangat ia cintai. Ia yakin Abi Khairil pasti merestui keinginannya untuk menyunting Nafia. Langit sudah tertutup awan hitam. 

Hanya terlihat sebuah kegelapan. Ini pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Namun disaat cinta tercipta maka rindupun pasti bermula. Aku harus bertemu dengan cintaku. Tidak ada alasan bagiku untuk menunda pertemuan ini. 

Aku harus bertemu dengan Nafia karna pertemuan akan menghapus segala kerinduan. Termasuk kerinduan hati ini. Setelah shalat di masjid, Rafa langsung menghidupkan motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi. 

Baginya bertemu dengan Nafia adalah tujuan utama. Tak ada yang boleh menghalangi keinginan sucinya. Kecuali jika Tuhan berkehendak lain pada dirinya. Sesaat ia sudah sampai di kota Sawang. 

Rafa terus mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba handphone nya berbunyi, ada pesan masuk. Langsung ia buka. Ternyata dari Mutia. Udah adzan bang, jangan lupa shalat ya. 

Hatinya sedikit gamang. Kenapa Mutia yang mengirim pesan kepadanya dan bukan Nafia. Nafia, mengapa aku begitu sulit untuk bisa bersanding denganmu. Aku tau bagaimana jalan terbaik yang harus aku lakukan untukmu. 

Satu-satunya cara adalah aku akan melamarmu dan setelah itu kita akan menikah di bawah naungan cinta suci. Tapi setelah ayah dan ibuku menjodohkanku dengan saudaraku yang bernama Mutia itu, jujur aku kecewa. 

Aku sekarang merasa kalau aku sudah tersesat menuju hatimu. Nafia, mengapa cinta yang ku rasa harus berakhir kecewa. Ingin rasanya aku menangis tapi aku tidak bisa. Aku lelaki dan aku tidak bisa meneteskan airmata sekalipun alasannya karena cinta. Aku lelaki harus tegar dan tegas dalam hidup. 

Nafia, biarkan aku berjalan di tengah turunnya hujan agar tak seorangpun tau kalau aku sedang menangis. dan tiba-tiba saja, duaaaarrrrr. Rafa menabrak jembatan di desa lhok pawoh, sawang. 

Dalam peristiwa kecelakaan ini tak ada yang melihat dirinya. Dalam subuh yang dingin, langit masih terlihat gelap. Embun masih bergelayutan di ujung dedaunan. 

Dalam kedinginan ini ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. saat-saat terakhir matanya hanya melihat kegelapan. Hanya kegelapan dan setelah itu ia tidak melihat apa-apa lagi. semuanya hitam, semuanya hilang. 

Dunia terlihat seperti tanpa sebuah sinar terang. Satu jam telah berlalu dan mobil ambulance melaju kencang menuju rumah sakit umum Zainal Abidin di kta Banda Aceh. Rafa belum sadarkan diri. Keningnya berdarah dan tangan kirinya patah saat terjadi kecelakaan. 

Ravi yang ikut mengantarkan Rafa terlihat sedih. Ada penyesalan yang besar dalam hatinya. Ini salahku. Ini kebodohanku yang sudah berkata yang sebenarnya sehingga bang Rafa ingin bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Kalau saja aku tidak mengatakan apa yang telah diputuskan ayah dan ibu mungkin bang Rafa tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini. 

Klik: 
Lanjut ke part 5
Atau:
Kembali ke part 3